Advertorial

Pemprov Kaltim Hadiri Pertemuan Tiga Negara di Brazil, Bahas Mekanisme Perdagangan Karbon

KABARBORNEO.ID – Gubernur Kaltim, Isran Noor meyakini penting sekali belajar dari negara Brazil terkait mekanisme perdagangan karbon. Pasalnya negeri tarian samba itu telah menerima dana karbon sejak tahun 2019.

Diketahui orang nomor satu di Kaltim itu memenuhi undangan agenda forum diskusi tiga negara yakni Brazil, Congo, dan Indonesia yang ditengarai Bank Dunia. Pertemuan tersebut terkait program penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi di masing-masing negara.

Melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim, Sri Wahyuni, Gubernur menyampaikan poin penting pertemua kali ini mengenai langkah mempersiapkan mekanisme perdagangan karbon dunia. Selain itu, Bank Dunia memandang tiga negara tersebut sebagai negara yang berhasil mempertahankan pengurangan gas emisi karbon di dunia.

“Brazil sudah menerima dana karbon sejak 2019. Sementara Kaltim baru pada tahun 2022. Makanya kita perlu untuk belajar kesana tentang mekanisme perdagangan karbon,” ujar Sri Wahyuni kepada awak media, Senin (15/5/2023).

“Tentu perlu ada komitmen karena Brazil, Indonesia dan Congo ini sangat potensial dengan karbon kreditnya. Oleh sebab itu perlu ada mekanisme pasar yang kompetitif untuk perdagangan karbon,” imbuhnya.

Sri mengungkapkan bahwa kontrak Kaltim dengan Bank Dunia perihal dana emisi karbon hanya sampai pada tahun 2025 mendatang. Saat ini banyak perusahaan besar yang berminat dalam perdagangan karbon. Namun terdapat beberapa mekanisme pembayaran yang ditawarkan oleh pihak perusahaan.

BACA JUGA :  Syafruddin: Kondisi Jalan Sangat Memperihatinkan, Pusat Seakan Tidak Perduli dengan Kaltim

Mekanisme pertama yaitu pembayaran berbasis kinerja yang tidak melihat dari berapa turunan emisi karbon yang berhasil diturunkan.

“Tetapi tutupan lahannya masih milik kita. Selain itu, ada perusahaan yang berani menawarkan harga lebih tinggi. Tetapi mereka ingin membawa data karbon. Artinya itu akan mengurangi tutupan lahan kita. Itulah macam-macam mekanisme perdagangan karbon yang saat ini berkembang,” sebutnya.

Melalui pertemuan tersebut, lanjut Sri, Bank Dunia menginginkan ada pertemuan lagi yang membahas secara teknis tentang mekanisme perdagangan karbon. Mereka juga menginginkan di setiap negara yang berkomitmen dalam penurunan emisi karbon agar memiliki tenaga ahli yang mengetahui cara mempertahankan luasan karbon hutan, serta melakukan manajemen dana karbon yang telah diberikan.

“Jadi nanti akan ada forum yang lebih tinggi lagi terkait kesepakatan yang ada. Diharapkan tiga negara ini bisa menginisiasi mekanisme perdagangan karbon nantinya,” tutup Sri. (ADV/DISKOMINFO KALTIM)

Related Articles

Back to top button