oleh

Pengakuan Mantan Tahanan Uighur, Disekap 9 Bulan Hingga Diperkosa Massal

KABARBORNEO.ID-Tursunay Ziawudun, mengungkapkan pelecehan seksual yang dia alami dan saksikan selama berada di kamp yang didirikan oleh Pemerintahan China  yang kini telah melarikan diri dari Xinjiang setelah dibebaskan dan kini berada di AS.

Dikutip dari Merdeka.com Para pria selalu memakai masker, walaupun tak ada pandemi di sana. Mereka memakai jas, bukan seragam polisi.

Demikian salah satu cerita yang diungkapkan Tursunay Ziawudun, mantan tahanan di kamp Uighur.

Kadang-kadang setelah dini hari, mereka mendatangi sel-sel, memilih perempuan yang mereka inginkan, membawa mereka turun ke koridor menuju “kamar hitam”, di mana tak ada kamera pengintai.

Beberapa malam, kata Ziawudun, mereka membawa dirinya.

“Mungkin ini adalah luka yang paling tak terlupakan padaku selamanya,” ujarnya, dikutip dari BBC, Kamis (4/2).

“Bahkan aku tak mau kata-kata ini keluar dari mulutku.”

Tursunay Ziawudun menghabiskan sembilan bulan dalam kamp penahanan dengan sistem paling tertutup dan luas China yang berada di wilayah Xinjiang. Menurut perkiraan, lebih dari 1 juta pria dan perempuan ditahan di kamp-kamp di wilayah itu, yang diklaim China sebagai pusat pendidikan ulang Uighur dan minoritas lainnya.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan pemerintah China secara bertahap melucuti kebebasan beragama dan kebebasan lainnya dari warga Uighur, yang berpuncak pada sistem pengawasan massal, penahanan, indoktrinasi, dan bahkan sterilisasi atau pemaksaan KB.

Bulan lalu, pemerintah AS menyebut tindakan China terhadap warga Uighur merupakan genosida. China mengatakan laporan penahanan massal dan sterilisasi paksa adalah “kebohongan dan tuduhan yang tidak masuk akal”.

Beberapa mantan tahanan dan seorang penjaga mengungkapkan kepada BBC, mereka mengalami atau melihat bukti dari sistem pemerkosaan massal, pelecehan seksual, dan penyiksaan yang terorganisir.

Tursunay Ziawudun, yang melarikan diri dari Xinjiang setelah dibebaskan dan kini berada di AS mengungkapkan, para perempuan dipindahkan dari sel-sel mereka setiap malam dan diperkosa oleh satu orang atau lebih pria China yang memakai masker. Dia mengaku disiksa dan diperkosa secara massal pada tiga kesempatan, oleh dua atau tiga pria.

Ziawudun sebelumnya telah mengungkapkan kisahnya kepada media, tapi hanya dari Kazakhstan, di mana dia “tinggal dengan penuh ketakutan akan dikirim pulang ke China.”
Dia mengatakan dia yakin jika dia mengungkapkan pelecehan seksual yang dia alami dan saksikan, dan kembali ke Xinjiang, dia akan mendapatkan hukuman yang lebih keras dari sebelumnya. Dia juga mengaku malu.

Tidak mungkin untuk memverifikasi pengakuan Ziawudun sepenuhnya karena pembatasan ketat yang diberlakukan China pada wartawan di negara itu, tetapi dokumen perjalanan dan catatan imigrasi yang dia berikan kepada BBC menguatkan ceritanya. Penjelasannya tentang kamp di daerah Xinyuan – dikenal di Uighur sebagai daerah Kunes – cocok dengan citra satelit yang dianalisis oleh BBC, dan uraiannya tentang kehidupan sehari-hari di dalam kamp, serta sifat dan metode pelecehan, sesuai dengan laporan lain dari mantan tahanan.

Dokumen internal dari sistem peradilan daerah Kunes dari tahun 2017 dan 2018, diberikan kepada BBC oleh Adrian Zenz, seorang ahli terkemuka tentang kebijakan China di Xinjiang, mengunggkap perencanaan rinci dan pengeluaran untuk “transformasi melalui pendidikan” dari “kelompok-kelompok kunci” – eufemisme umum di China untuk indoktrinasi orang Uighur. Dalam satu dokumen Kunes, proses “pendidikan” digambarkan sebagai “mencuci otak, membersihkan hati, memperkuat kebenaran dan melenyapkan kejahatan”.

Acara propaganda

BBC juga mewawancari seorang perempuan Kazakh dari Xinjiang, Gulzira Auelkhan yang ditahan selama 18 bulan. Dia mengaku dipaksa menelanjangi para perempuan Uighur dan memborgol mereka, sebelum meninggalkan mereka dengan para pria China. Setelah itu, dia membersihkan ruangan tersebut.

Para pria China itu akan membayar sejumlah uang untuk memilih tahanan muda yang paling cantik.

Auelkhan mengaku tak punya kekuatan untuk melawan atau menolong.

Ditanya apakah ada sistem pemerkosaan yang terorganisir, dia mengatakan: “Ya, pemerkosaan.”

Ziawudun mengatakan beberapa perempuan yang diambil dari selnya pada malam itu tak pernah kembali. Mereka yang kembali diancam jangan menceritakan kepada siapapun di sel itu apa yang menimpa mereka. Menurutnya hal itu untuk merusak mental para tahanan.

Saat dibawa ke kamp di wilayah Kunes, Ziawudun melihat banyak bus berjejer di luar kamp membawa para tahanan tanpa henti.

Perhiasan para perempuan disita. Anting yang dipakai Ziawudun direnggut sampai telinganya berdarah. Dia bersama tahanan perempuan lain digiring ke sebuah ruangan. Di antara mereka ada salah seorang lansia yang kemudian bersahabat dengan Ziawudun.

Penjaga kamp melepas jilbab mereka, meneriakinya karena memakai gamis, pakaian yang dianggap simbol religius.

“Mereka melucuti semua pakaian para lansia perempuan, membiarkan mereka hanya memakai pakaian dalam. Dia sangat malu, mencoba menutupi dirinya dengan tangannya,” kisahnya.

“Saya nangis kencang melihat cara mereka memperlakukannya. Air matanya bercucuran bagai hujan.”

Mereka kemudian dibawa ke blok sel, di mana berjejer sejumlah bangunan. Mereka dipaksa menonton acara propaganda di sel mereka dan rambut mereka dipangkas pendek.

BACA JUGA :  Buntut Cuitan Soal Natalius Pigai, Abu Janda Dipanggil Bareskrim Polri

Polisi menginterogasi Ziawudun tenrmtang keberadaan suaminya, menjatuhkannya ke lantai dan menendang perutnya.

Menurut Ziawudun, setiap sel dihuni 14 perempuan, dengan ranjang susun, terali di jendela, sebuah baskom dan lubang toilet di lantai. Saat pertama kali melihat seorang perempuan dibawa keluar sel pada malam hari, dia tak paham alasannya. Dia pikir mereka dipindah ke suatu tempat.

Lalu suatu saat di bulan Mei 2018 – “Saya tidak ingat tanggal pastinya, karena Anda tidak ingat tanggal di dalamnya” – Ziawudun dan teman satu selnya, seorang perempuan berusia dua puluhan, dibawa keluar pada malam hari dan diserahkan kepada seorang pria China bermasker. Teman satu selnya dibawa ke ruang terpisah.

“Begitu dia masuk ke dalam dia mulai berteriak,” kata Ziawudun.

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Anda, saya pikir mereka menyiksanya. Saya tidak pernah berpikir tentang pemerkosaan mereka.”

Perempuan yang membawa mereka dari sel memberi tahu para pria itu tentang pendarahan yang dialami Ziawudun baru-baru ini.

“Setelah perempuan itu berbicara tentang kondisiku, pria China itu mengumpat padanya. Pria bermasker itu berkata ‘Bawa dia ke kamar gelap’.”

“Perempuan itu membawa saya ke kamar di sebelah tempat gadis lain itu dibawa. Mereka membawa tongkat listrik, saya tidak tahu apa itu, dan tongkat itu didorong ke dalam lubang kelamin saya, menyiksa saya dengan sengatan listrik.”

Penyiksaan Ziawudun pada malam pertama di kamar gelap akhirnya berakhir. Dia dikembalikan ke sel.

Kira-kira satu jam kemudian, teman satu selnya dibawa kembali.

“Gadis itu menjadi sangat berbeda setelah itu, dia tak mau berbicara dengan siapa pun, dia duduk diam menatap seolah-olah dalam keadaan kesurupan,” kata Ziawudun.

“Ada banyak orang di sel itu yang terganggu mentalnya.”

Tingkat kelahiran anjlok

Qelbinur Sedik, perempuan Uzbek dari Xinjiang juga mengaku mendengar kisah pemerkosaan tersebut. Sedik seorang guru Bahasa Mandarin yang dibawa ke kamp dan dipaksa mengajar para tahanan. Sedik melarikan diri dari China dan berani berbicara kepada publik tentang pengalamannnya.

Suatu hari dia mendekati polwan China, menanyakan soal pemerkosaan itu. Mereka mengobrol di halaman di mana tak ada CCTV. Polwan itu mengatakan, ‘Ya, pemerkosaan telah menjadi budaya. Itu pemerkosaan massal dan polisi China tak hanya memperkosa mereka tapi juga menyetrum mereka. Mereka target penyiksaan mengerikan’.

Malam itu Sedik tak bisa tidur.

“Saya memikirkan putri saya yang kuliah di luar negeri dan saya menangis sepanjang malam,” kisahnya.

Guru lainnya yang mengajar di kamp, Sayragul Sauytbay, mengatakan kepada BBC bahwa “pemerkosaan itu biasa” dan para penjaga memilih para gadis dan perempuan muda yang mereka inginkan.

Dia pernah menyaksikan pemerkosaan massal mengerikan terhadap seorang perempuan berusia 20 atau 21 tahun, yang dibawa ke hadapan sekitar 100 tahanan lainnya untuk membuat pengakuan paksa.

“Setelah itu, di depan semua orang, polisi bergantian memperkosanya,” kata Sauytbay.

Perempuan muda itu berteriak minta tolong.

Para perempuan di kamp juga dipaksa memasang IUD atau alat kontrasepsi lainnya, termasuk seorang perempuan yang baru berusia 20 tahun. Pemaksaan KB warga Uighur meluas di Xinjiang, menurut penyelidikan terbaru
Associated Press. Kepada BBC, pemerintah China menyebut tuduhan itu sangat tak berdasar.

Berdasarkan pengakuan Ziawudun, para penjaga kamp tak hanya memperkosa, tapi juga menggigit seluruh tubuh korban.

“Anda tak tahu apakah mereka manusia atau binatang,” ujarnya, sembari mengusap air matanya yang terus bercucuran.

“Saya mengalami itu tiga kali. Dan bukan satu orang yang melukaimu, bukan hanya satu pemangsa. Sekali waktu mereka berdua atau bertiga.”

Pemerintah China tak menanggapi secara langsung permintaan dari BBC untuk mengonfirmasi dugaan pemerkosaan dan penyiksaan tersebut. Dalam sebuah pernyataan, seorang juru bicara mengatakan kamp di Xinjiang bukan kamp penahanan tapi pusat pendidikan vokasi dan pelatihan.

“Pemerintah China melindungi hak dan kepentingan semua etnis minoritas secara setara,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemerintah “sangat mementingkan perlindungan terhadap hak-hak perempuan”.

Tingkat kelahiran di Xinjiang anjlok dalam beberapa tahun terakhir, menurut penelitian independen – efek yang oleh para analis digambarkan sebagai “genosida demografis”.

Banyak warga dalam komunitas itu beralih ke alkohol, kata Ziawudun, yang mengamati sekitarnya setelah dibebaskan, sebelum pindah ke AS. Beberapa kali, dia melihat mantan teman satu selnya pingsan di jalan – perempuan muda yang dikeluarkan dari sel bersamanya pada malam pertama, yang dia dengar berteriak di kamar sebelah. Dia mengatakan perempuan itu kecanduan.

“Mereka bilang orang-orang dibebaskan, tapi menurut saya semua orang yang meninggalkan kamp selesai.”

Memang, kata dia, itulah rencana pemerintah China. Pengawasan, penahanan, indoktrinasi, dehumanisasi, sterilisasi, penyiksaan, pemerkosaan.

“Tujuan mereka adalah menghancurkan semua orang,” katanya. “Dan semua orang tahu itu.” (Redaksi KabarBorneo)

 

Artikel ini telah tayang di merdeka.com dengan judul Mantan Tahanan Ungkap Pemerkosaan Sistematis di Balik Kamp Tahanan Uighur di Xinjiang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Terkait