oleh

Rumus Cinta Berbasis DNA Ala Sains Bantu Temukan Pasangan Ideal

Sebuah produk dari perusahaan Swiss, GenePartner, menemukan cara unik untuk membantu seseorang menemukan jodohnya dengan menggunakan DNA. Salah satu pendiri GenePartner, Dr Tamara Brown mengatakan jodoh ditemukan oleh dua faktor, yaitu kesamaan kimiawi dan kompatibilitas sosial.

Rumus cinta dengan perjodohan berbasis DNA Premis GenePartner dibangun dari penelitian sains di Swiss pada tahun 1995 oleh Dr Claus Wedekind, yang terkenal dengan penelitian ‘keringat kaus oblong’.

Rumus cinta ternyata tidak selalu dari pandangan pertama, ada banyak faktor yang bisa mendorongnya. Tetapi, bagaimana jika rumus cinta ala sains bisa membantu menemukan pasangan ideal? Jawaban dari rumus cinta yang unik ini adalah DNA. Seperti dikutip dari BBC Indonesia, Sabtu (22/5/2021), banyak orang mencoba upaya menjalin hubungan asmara berdasarkan hasil analisis kecocokan DNA. Beberapa tanggapan pasagan yang sudah melakukan analisis kecocokan DNA :

Cheiko Mitsui sudah mencoba mencari pasangan selama hampir sepuluh tahun ketika menemukan perjodohan berbasis DNA.Perempuan berusia 45 tahun dari Kota Hakodate di Hokkaido, Jepang, ini bercerai pada usia 35, dan mulai merasa tak ada lelaki yang mau menjalin hubungan dengannya.

Segala upaya sudah ia tempuh: cari calon melalui koneksi pertemanan, hadir di pesta-pesta, hingga mendaftarkan diri ke biro jodoh.

“Tak ada yang cocok,” kata Mitsui.

Hingga kemudian ia bertemu dengan Cheiko Date, yang mengeklaim sudah berhasil menemukan pasangan bagi 700 klien dalam karier 20 tahun sebagai comblang.

Bagi Cheiko Mitsui, analisis DNA sangat membantunya menemukan suami.Mereka menikah pada September 2019 setelah berkencan selama kurang lebih satu bulan.

“Hasil analisis [memang] tidak 100% [cocok], namun nyaris sempurna … saya memang mengharapkan hasil yang bagus, tapi hasilnya lebih baik dari yang saya perkirakan, jadi ya saya sangat bahagia,” kata Mitsui.

Ia mengakui hasil tes DNA berperan besar untuk akhirnya memutuskan menikahi pasangannya.

“[Analisis DNA] telah mengubah jalan hidup saya,” katanya.

Namun, Dr Diogo Meyer, pakar genetika dari University of Sao Paulo, Brasil, memperingatkan bahwa klaim DNA membantu menemukan jodoh ideal “masih terlalu awal”.

“Ini masih sesuatu yang kontroversial, diperlukan studi lanjutan untuk memastikan efek HLA [terhadap keputusan seseorang untuk menentukan pasangan],” kata Meyer.

Bagi Ami -bukan nama sebenarnya  analisis DNA ia harapkan bisa membantunya menemukan jodoh yang ia impikan, setidaknya membantu menemukan orang yang tepat, entah kapan.

BACA JUGA :  Anggota DPRD Kaltim, Sutomo Jabir Desak Perusahaan Tambang Batu Bara Laksanakan Kewajiban.

Sejak ikut program perjodohan Cheiko Date tahun lalu, perempuan 32 tahun dari Jepang ini menjalin hubungan dengan dua laki-laki.

Ia mengatakan tes DNA “jelas membantunya” mengambil keputusan.Ia menggambarkan dua laki-laki ini sangat baik, berpendidikan, dan sangat sopan. “Yang menarik adalah, saya bisa mengatakan kalau keduanya adalah orang yang baik … tapi seperti ada sesuatu yang hilang, dan saya tak tahu mengapa,” kata Ami.

Ia lantas berdiskusi dengan Date dan membahas tes DNA.Disimpulkan dua laki-laki ini “hanya berada pada zoba persahabatan” alias tidak cocok untuk dijadikan suami.

“Meski saya merasa sangat nyaman dengan keduanya, sepertinya ada faktor penting yang hilang [yang membuat saya tak berani melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih serius],” kata Ami.

 Membantu menambah yakin dengan pasangan

TanggapanMelissa, dari Queensland, Australia, mengatakan hubungan dengan kekasihnya mengalami krisis saat ia memutuskan melakukan tes kompatibilitas.

Ia dan kekasihnya menggunakan layanan situs DNA Romance yang mengeklaim “bisa meramalkan kecocokan antara dua orang dengan menggunakan DNA”.

Di masa lalu, kata Melissa, ia punya banyak pacar, tapi hubungan asmara ini selalu kandas. “Itu seperti saya membuang-buang waktu,” ujar Melissa.

Lalu pada 2017 ia bertemu dengan Mez melalui aplikasi kencan Tinder.Kencan pertama mereka terjadi di Cannes, Prancis.

“Rasanya istimewa. Saya sebenarnya gugup tapi juga ada perasaan bahwa Mez mungkin adalah orang yang saya cari selama ini,” kata Melissa.

Namun, hubungannya dengan Mez tak berjalan mulus dan keduanya sempat putus sebentar.Ketika kembali menjalin hubungan, Melissa meminta Mez ikut tes kompatibilitas genetika.Hasilnya menunjukkan ia dan Mez cocok 98%.

“Saya tentu sangat bahagia … ini seperti menjadi konfirmasi bahwa hubungan kami layak untuk diteruskan dan menjadi lebih serius,” kata Melissa.

Keduanya kemudian menikah dan sekarang tengah menunggu kelahiran anak pertama.

Ahli genetika dari Max Planck Institute for the Science of Human History, di Jerman, Rodrigo Barquera, berpendapat gen-gen HLA “tak bisa memprediksi tingkat kesuksesan hubungan percintaan antara dua orang”.

Ia mengatakan hubungan antarmanusia sangat kompleks dan tak bisa hanya diukur dari gen-gen HLA.

Artikel ini telah tayang di bbc.com dengan judul “Perjodohan Berbasis DNA : Ketika Sains Bisa ‘Membantu’ Kita Menemukan Pasangan Ideal”

Berita Terkait